Selasa, 01 Oktober 2019


Inovasi Pertanian

A. Pengertian Inovasi
Menurut Suryani (2008:304), Inovasi dalam konsep yang luas sebenarnya tidak hanya terbatas pada produk. Inovasi dapat berupa ide, cara-cara ataupun obyek yang dipersepsikan oleh seseorang sebagai sesuatu yang baru. Inovasi juga sering digunakan untuk merujuk pada perubahan yang dirasakan sebagai hal yang baru oleh masyarakat yang mengalami. Namun demikian, dalam konteks pemasaran dan konteks perilaku konsumen inovasi dikaitkan dengan produk atau jasa yang sifatnya baru. Baru untuk merujuk pada produk yang memang benar-benar belum pernah ada sebelumnya di pasar dan baru dalam arti ada hal yang berbeda yang merupakan penyempurnaan atau perbaikan dari produk sebelumnya yang pernah ditemui konsumen di pasar. Kata inovasi dapat diartikan sebagai “proses” atau “hasil” pengembangan dan atau pemanfaatan atau mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk, proses yang dapat memberikan nilai yang lebih berarti.
Menurut Rosenfeld dalam 12 Sutarno (2012:132), inovasi adalah transformasi pengetahuan kepada produk, proses dan jasa baru, tindakan menggunakan sesuatu yang baru. Sedangkan menurut Mitra pada buku tersebut dan pada halaman yang sama, bahwa inovasi merupakan eksploitasi yang berhasil dari suatu gagasan baru atau dengan kata lain merupakan mobilisasi pengetahuan, keterampilan teknologis dan pengalaman untuk menciptakan produk, proses dan jasa baru.
Menurut Vontana (2009:20), inovasi adalah kesuksesan ekonomi dan sosial berkat di perkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam mentransformasi input
menjadi output yang menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna dan harga yang ditawarkan kepada konsumen dan/atau pengguna, komunitas, sosietas dan lingkungan.
Menurut Evert M. Rogers (Suwarno, 2008:9), Pengertian Inovasi adalah suatu ide, gagasan,praktek atau objek / benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi.
Menurut Kuniyoshi Urabe, Inovasi bukan merupakan kegiatan satu kali pukul (one time phenomenon), melainkan suatu proses yang panjang dan kumulatif yang meliputi banyak proses pengambilan keputusan di dan oleh organisasi dari mulai penemuan gagasan sampai implementasinya di pasar.
Menurut Van de Ven, Andrew H, Inovasi adalah pengembangan dan implementasi gagasan-gagasan baru oleh orang dimana dalam jangka waktu tertentu melakukan transaksi-transaksi dengan orang lain dalam suatu tatanan organisasi.
Menurut UU No. 18 tahun 2002, Pengertian Inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi.
Menurut West & Far (Ancok,2012:34), Inovasi adalah pengenalan dan penerapan dengan sengaja gagasan, proses,produk, dan prosedur yang baru pada unit yang menerapkannya, yang dirancang untuk memberikan keuntungan bagi individu, kelompok, organisasi dan masyarakat luas.
Menurut UU No 16 Tahun 2006, Pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan yang selanjutnya disebut pertanian adalah seluruh kegiatan yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang pengelolaan sumber daya alam hayati dalam agroekosistem yang sesuai dan berkelanjutan, dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.
Maka dari itu berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa inovasi pertanian adalah suatu suatu ide, gagasan,praktek atau objek / benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal baru oleh seseorang atau kelompok dalam bidang pertanian baik dari sektor hulu sampai dengan hilir yang dirancang untuk memberikan keuntungan bagi individu, kelompok, organisasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas khususnya petani.

B. Contoh-contoh Inovasi di Bidang Pertanian
  1. Alat penanam padi jarwo transplanter
Salah satu metode untuk meningkatkan produktivitas padi yang telah direkomendasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian adalah jajar legowo 2:1. Rata-rata peningkatan produktivitas yang dicapai dengan penerapan jajar legowo tersebut adalah 21,53% - 33,69% dibanding dengan metode tanam manual. Dengan pertimbangan berbagai hal, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian merancang mesin tanam padi jajar legowo 2:1 yang diberi nama Indo Jarwo Transplanter.
Alat ini direkomendasikan oleh LitBang (Penelitian dan pengembangan) Kementrian Pertanian, konsep dari jarwo alias jajar legowo dari jawa timur adalah untuk memberikan jarak yang pas antara padi yang satu dengan padi lainnya. Menurut penelitian, alat jarwo ini mampu meningkatkan produksi padi sebanyak 30%.
  1. Mesin Pemanen Padi Indo Combine Harvester
Combine Harvester merupakan mesin pemanen. Mesin ini, seperti namanya, merupakan kombinasi dari tiga operasi yang berbeda, yaitu menuai, merontokkan, dan menampi, dijadikan satu rangkaian operasi. Secara umum fungsi operasional dasar combine harvester adalah sebagai berikut
·         Memotong tanaman yang masih berdiri
·         Menyalurkan tanaman yang terpotong ke selinder
·         Merontokkan gabah dari tangkai atau batang
·         Memisahkan gabah dari jerami
·         Membersihkan gabah dengan cara membuang gabah kosong dan benda asing.
Kelebihan dari alat canggih ini diantaranya mampu beroperasi di lahan yang basah, memiliki diameter yang lebih rendah, tusuk panen yang dihasilkan tidak lebih dari 1%, dan kapasitas kerja yang terbilang cepat karena dalam waktu 4 sampai 6 jam per hektar.
3. TAKESHI (Teknologi Android Kesehatan Sapi)
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian mulai mengembangkan sebuah aplikasi berbasis android yang berisi tentang informasi kesehatan sapi, yakni aplikasi TAKESHI. Aplikasi yang dirancang oleh peneliti dari Balai Besar Penelitian Veteriner ini akan sangat membantu khususnya bagi peternak sapi, penyuluh, mahasiswa ataupun masyarakat pecinta dunia peternakan. Nama TAKESHI merupakan singkatan dari Teknologi Android Kesehatan Sapi. Aplikasi ini dibuat untuk mendukung program pemerintah yaitu Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) demi mewujudkan swasembada daging sapi, mengingat salah satu kendala dalam program ini yaitu rendahnya pengetahuan dan pemahaman peternak terkait dengan permasalahan kesehatan sapi dan gangguan reproduksi pada ternak.
Aplikasi TAKESHI secara garis besar terdiri dari empat komponen utama, yaitu penyakit dan gangguan reproduksi pada sapi indukan, penyakit dan gangguan pada anak sapi, manajemen kesehatan sapi dan kontak ahli. Untuk memudahkan pengguna, aplikasi ini disusun menggunakan Bahasa yang sederhana, singkat dan jelas. Bahkan, beberapa Bahasa daerah populer perihal nama penyakit-penyakit tertentu dimasukkan ke dalam aplikasi ini.aplikasi TAKESHI punya beberapa kelebihan, dibanding aplikasi serupa yang telah tersedia.
Aplikasi yang ada sebelumnya masih dalam Bahasa asing dan beberapa diantaranya kurang sesuai dengan kondisi penyakit yang ada di Indonesia, sementara TAKESI mampu memberikan informasi dengan sederhana, namun jelas dan informatif. Kelebihan lain dari TAKESI adalah adanya sarana kontak ahli, sehingga pengguna dapat langsung berkomunikasi dengan para ahli ataupun petugas kesehatan hewan setempat baik lewat SMS atau telepon. Jika belum punya informasi yang cukup, pengguna pun dapat memasukkan kata kunci sesuai dengan gejala   klinis yang dilihat dan TAKESI akan menyajikan beberapa alternative kemungkinan penyakit yang menyerang ternak. Selanjutnya, pengguna dapat membaca informasi singkat serta membandingkan gambaran klinis melalui galeri foto pada aplikasi yang kemudian dapat diinformasikan kepada tenaga medis sehingga tenaga medis akan langsung dapat mempunyai gambaran mengenai kasus yang akan ditangani.

4. Alat Pengering Cepat Kedelai Brangkasan
Alat yang dirancang oleh I Ketut Tastra dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian ini dapat mencegah turunnya mutu benih kedelai akibat terlambatnya proses pengeringan. Komponen alatnya, antara lain drum pemanas udara, dua kompor minyak tanah sebagai sumber panas, dan sebuah blower untuk menghisap dan menghembuskan udara panas.
Jika dibandingkan dengan alat pengering konvensional, alat ini dapat mempercepat proses pengeringan sehingga mampu menghemat waktu pengeringan dari 8 hari menjadi 1 hari. Selain itu, teknologi pengering ini juga dapat meningkatkan mutu (daya tumbuh) benih kedelai hingga mencapai 90,3%.

5. Tarikan Matrik Tanah Liat
Sistem irigasi pertanian konvensional yang memasok air melalui permukaan tanah dinilai tidak efektif, terutama pada tanah dengan tekstur berpasir. Air tanah akan tertahan dan terlindung di bawah tanah dengan tekstur berpasir tersebut. Sehingga perlu sebuah alat yang dapat menarik air dari bawah permukaan ke atas permukaan agar tersedia air bagi tanaman. Berdasarkan kondisi itu, Subowo dari Balai Penelitian Tanah merancang teknologi yang disebut tarikan matrik tanah liat.
Bentuk alat ini sangat sederhana, yaitu plumpung yang terdiri dari silinder dengan lubang-lubang vertikal maupun miring. Teknologi tarikan matrik tanah liat dapat mengatasi kendala kekurangan air bagi tanaman pada lahan dengan tekstur berpasir.

6. Instalasi Pengolah Limbah untuk Biogas, Pupuk Cair, dan Pakan Ternak
Instalasi ini dapat mengolah limbah ternak yang terbuang menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti biogas, pupuk organik cair, dan bahan pakan ternak. Selain itu, dengan menggunakan instalasi ini limbah ternak bisa terkelola dengan baik. Apabila limbah ternak tidak dikelola dengan tepat, maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan yang serius.
Perancang instalasi pengolah limbah untuk biogas, pupuk cair, dan pakan ternak adalah Suprio Guntoro dan dan 7 orang lainnya dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali.

7. Alat Irigasi Tipe Sprinkler Berjalan untuk Rumah Kaca
Alat berkonstruksi kokoh ini dirancang sesuai kebutuhan sistem irigasi di rumah kaca. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan alat ini pun dapat digunakan pada areal terbuka. Salah satu fungsinya, yaitu dapat bergerak maju-mundur untuk memberikan air dengan ukuran partikel, waktu, dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Alat irigasi tipe sprinkler berjalan untuk rumah kaca dirancang oleh Teguh Wikan Widodo bersama 4 orang lainnya dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Keunggulan alat irigasi tipe sprinkler berjalan tersebut adalah sifatnya yang fleksibel karena dapat diatur tinggi-rendahnya sehingga bisa disesuaikan dengan tinggi tanaman. Sehingga aplikasi air untuk irigasi lebih efisien.

8. Perangkat Uji Cepat Tanah Kering (PUTK)
Alat pengukur serta cairan formula kimia untuk menentukan status hara, P, K, bahan organik, pH, dan kebutuhan kapur pada lahan kering merupakan bagian dari perangkat uji cepat tanah kering (PUTK). Teknologi ini memungkinkan penyuluh lapangan atau kelompok tani untuk menganalisis unsur-unsur yang terdapat pada lahan kering. Sehingga berdasarkan analisis tersebut, mereka dapat membuat rekomendasi pemupukan untuk padi gogo, jagung, dan kedelai pada tanah kering.
Alat yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanah ini dikemas dengan praktis, mudah dibawa, dan dapat diisi ulang (re-fill).

9. Plantix,  Aplikasi Pemantau Kesehatan Tanaman
Bianca Kummer, pendiri Plantix, mengatakan hampir setiap jenis penyakit tanaman ada pola visualnya, apakah itu bakteri, virus, kekurangan nutrisi, serangan hama, hingga jamur.
Dengan bantuan bank data dan pembelajaran mesin, algoritma pola-pola tersebut dapat diajarkan pada kecerdasan buatan sehingga penyakit tanaman bisa dideteksi. Namun, bagaimanapun aplikasi ini punya kelemahan. Bianca mengungkap bahwa tingkat keberhasilan Plantix dalam mengenali jenis penyakit tanaman mencapai 80% sampai 90%.

10. Leaf Republic, Piring Daun
Leaf Republic startup dari Jerman menciptakan piring ramah lingkungan, terbuat dari daun dan dapat bertahan hingga satu tahun. Daun sangat mudah terurai di tanah, serta dapat mengurangi sampah plastic yang selama ini menjadi momok dalam proses penguraian. Umumnya, piring yang digunakan untuk mengemas makanan terbuat dari sterofoam yang sangat sulit terurai jika dibuang.
Hal inilah yang menjadi alasan bagi perusahaan Jerman Leaf Republic untuk menciptakan piring dari daun agar mudah terurai saat dibuang ke tempat sampah. Piring keren ini terbuat dari tiga lapisan daun yang dijahit dan disatukan menggunakan serat kelapa serta kertas daun.
Tidak ada bahan kimia, plastik, ataupun zat aditif yang digunakan dalam proses pembuatannya. Satu hal yang menarik dari piring ini adalah bisa dicuci dan digunakan kembali hingga satu tahun. Bahkan, piring ini aman digunakan dalam microwave. Jika piring ini dibuang, tidak sampai satu bulan akan terurai di tanah karena terbuat dari daun.